Transendent

BAB III

TAKHRI TENTANG S{ALAT TASBIH

A. Pengertian Takhri>j al-H}adi>s|

Kata takhri>j[1] secara etimologi ialah kumpulan dua perkara yang saling berlawanan dalam suatu masalah.[2] Selain itu, kata takhri>j sering pula diartikan; (1) al-istinbat (mengeluarkan dari sumbernya); (2) al-tadrib (hal melatih atau penghabisan); (3) al-tawjih (hal menerangkan).[3] Jadi takhri>j al-h}adi>s| dapat berarti mengeluarkan hadis. Maksudnya segala yang ada kaitannya dengan apa yang diteliti, dan ditelusuri secara keseluruhan hingga tuntas dan menjadi jelas, dapat juga berarti mengeluarkan dan meriwayatkan hadis dari beberapa kitab.[4]

Dari segi terminologi, kata takhri>j menurut ahli hadis berarti seseorang menyebutkan dalam kitab karangannya suatu hadis dengan sanadnya sendiri. Seperti dikatakan dalam kalimat هذا الحديث اخرجه فلان yang berarti pengarang menyebut sesuatu hadis berikut sanadnya pada kitab yang dikarangnya, kemudian dalam kalimat هذاالكتاب خرجه فلان واستخرجه maksudnya si Fulan menyebutkan hadis-hadis dengan periwayat dengan sanad-sanad miliknya sendiri dan dalam bertemu dengan periwayat dalam sanad pengarang kitab sebelumnya, baik pihak guru pengarang pertama maupun yang di atasnya. Dan dalam kalimat خرجه احاديث كتاب كذا yang berarti mengembalikan suatu hadis kepada ulama yang menyebutkannya dalam suatu kitab dengan memberikan penjelasan kriteria-kriteria hukumnya. Pendapat demikian diantaranya menurut al-Manawi yang secara lengkap beliau menyebutkan yakni menisbatkan hadis-hadis kepada para ulama hadis yang menyebutkannya dalam kitab-kitab mereka, baik berupa jawa>mi’, sunan atau musnad-musnad.[5]

Dari beberapa pengertian tersebut di atas, maka secara kronologis menurut ulama hadis dalam perkembangan ilmu hadis selanjutnya, bahwa takhri>j al-h}adi>s\ terdapat beberapa pengertian yaitu:

1. Mengemukakan hadis kepada orang banyak dengan menyebutkan para periwayatnya dalam sanad yang telah menyampaikan hadis itu dengan metode periwayatan yang mereka tempuh.

2. Ulama hadis mengemukakan berbagai hadis yang telah dikemukakan oleh para guru hadis, atau berbagai kitab, atau lainnya yang susunannya dikemukakan berdasarkan riwayatnya sendiri. Para gurunya, para temannya atau orang lain. Dengan menerangkan siapa periwayatnya dari para penyusun kitab atau karya tulis yang dijadikan pengambilan.

3. Menunjukkan asal usul hadis dengan mengemukakan sumber pengambilannya dari berbagai kitab hadis yang disusun oleh para mukharrijnya langsung yakni para periwayat yang juga sebagai penghimpun bagi hadis yang mereka riwayatkan.

4. Mengemukakan hadis berdasarkan sumbernya atau berbagai sumbernya, yakni kitab-kitab hadis yang di dalamnya disertakan metode periwayatannya dan sanadnya masing-masing serta diterangkan keadaan para periwayatnya dan kualitas hadisnya.

5. Menunjukkan atau mengemukakan letak asal hadis pada sumbernya yang asli, yakni berbagai kitab yang di dalamnya dikemukakan hadis itu secara lengkap dengan sanadnya masing-masing, kemudian untuk kepentingan penelitian, dijelaskan kualitas hadis yang bersangkutan.[6]

Adapun pengertian takhri>j yang digunakan untuk kegiatan penelitian hadis dalam tesis ini lebih lanjut ialah pengertian yang dikemukakan pada butir kelima.

Berangkat dari pengertian tersebut, maka yang dimaksud dengan takhri>j al-h}adi>s| ialah kegiatan penelitian, penelusuran atau pencarian hadis pada berbagai kitab, sebagai sumber asli dari hadis yang diteliti. Yang di dalam sumber itu dikemukakan secara lengkap sanad dan matan hadis yang bersangkutan. Hal ini sejalan dengan pengertian hadis yang popular di kalangan ahli hadis dewasa ini yaitu al-dilalah yakni menunjukkan kitab-kitab sumber hadis dan menisbatkannya dengan cara menyebutkan para rawinya, yakni para pengarang kitab-kitab sumber hadis tersebut.[7]

Untuk kepentingan penelitian terhadap hadis, khususnya hadis tentang salat tasbih dan untuk kejelasan hadis tersebut beserta sumber-sumbernya, maka sangat diperlukan suatu metode agar mempermudah menelusuri hadis Rasulullah saw. tersebut meskipun pada dasarnya tidak semudah menelusuri ayat-ayat al-Qur’a>n yang cukup hanya memerlukan sebuah kitab kamus al-Qur’a>n saja, misalnya al-Mu’jam li al-Fa>z} al-Qur’a>n al-Kari>m. Terhadap hadis, Penelusurannya tidak cukup hanya dengan sebuah kamus atau kitab, karena hadis Nabi saw. terhimpun dalam banyak kitab dengan metode penyusunan yang beragam, baik dilihat dari segi nama penghimpunnya, cara penyusunannya, masalah yang dikemukakan, maupun bobot kualitasnya.

Dari penyusunan hadis-hadis yang beragam yang termuat dalam berbagai kitab tersebut, maka para ulama menyusun kamus atau kitab yang dimaksudkan bagi masing-masing kitab-kitab hadis tersebut, agar mempermudah penelusurannya dengan disertai metode-metode takhri>j al-hadi>s~\nya masing-masing.

Dalam berbagai metode takhri>j al-hadi>s~\ yang ada, para ulama berbeda pendapat. Syuhudi Ismail misalnya, membagi dua macam yaitu:

1. Takhri>j al-hadi>s~\ bi al-lafz} dan

2. Takhri>j al-hadi>s~\ bi al-mawdu>’i.[8]

Mayoritas ulama hadis membagi dalam lima bagian metode takhri>j al-hadi>s,~\ yaitu:

1. Metode takhri>j melalui lafal pertama matan hadis. Di samping itu metode ini juga mengkodifikasikan hadis-hadis yang lafal pertamanya sesuai dengan huruf-huruf hijaiyah.

2. Metode takhri>j melalui kata-kata dalam matan hadis. Metode ini digunakan berdasarkan kata-kata yang terdapat dalam matan hadis, baik itu berupa isim (kata benda) atau fi’il (kata kerja). Huruf-huruf tidak digunakan dalam matan hadis. Hadis-hadis yang dicantumkan hanyalah bagian hadis, diutamakan kata-kata yang asing. Adapun ulama yang meriwayatkannya dan nama-nama kitab induknya dicantumkan di bawah potongan hadis-hadisnya.

3. Metode takhri>j melalui periwayat hadis pertama. Metode ini digunakan berdasarkan periwayat hadis pertama yang didahului dengan meneliti sahabat (bila sanad hadisnya bersambung kepada Nabi saw. (muttas}}il) atau tabi’i bila hadis itu (mursal) yang diriwayatkan hadis yang hendak ditakhri>j)).

4. Metode takhri>j menurut tema hadis. Metode ini digunakan berdasarkan tema atau topik masalah sebuah hadis.

5. Metode takhri>j berdasarkan status hadis, yakni bila akan mentakhrij suatu hadis, maka dapat dilakukan dengan menggunakan salah satu metode dari yang telah disebutkan. Namun metode kelima ini mengetengahkan suatu hal yang baru berkenaan dengan upaya para ulama yang telah menyusun kumpulan hadis-hadis berdasarkan status hadis.[9]

Bila memperhatikan lima metode tersebut di atas, bahwa metode pertama dan kedua terangkum dalam metode pertama yang dikemukakan oleh M. Syuhudi Ismail, demikian pula yang keempat lainnya boleh dikata terangkum dalam metode kedua yang dikemukakan M. Syuhudi Ismail.

Dalam menelusuri hadis-hadis tentang s}alat tasbih, penulis menggunakan metode kedua dari lima metode yang di atas, yakni takhri>j al-hadi>>s\ melalui kata-kata dalam matan hadis atau metode takhri>j bi al-lafz} dengan upaya penelusuran hadis-hadis pada kitab-kitab hadis dengan menelusuri matan hadis yang bersangkutan berdasarkan hal-hal yang terdapat dalam matan hadis tersebut.

Sengaja penulis memilih metode ini, karena kemudahan dan cepatnya pencarian hadis yang ditakhri>j khususnya hadis tentang salat tasbih, dengan merujuk pada kitab (kamus) yang terkenal dalam metode ini yaitu kamus al-Mu’jam al-Mufahras li Alfa>z} al-Hadi>s\ al-Nabawi>> yang disusun oleh A.J. Wensinck.

Hadis yang mengemukakan tentang s}alat tasbih, setelah ditelusuri dengan menggunakan kata kunci تسبيح صلاة melalui kata dasarnya yaitu سبح[10] maka matan hadis tersebut secara lengkap beserta sanadnya dapat ditemukan dalam kamus al-Mu’jam al-Mufahras li al-Fa>z} al-Hadi>s\ al-Nabawi> sebagai berikut:

باب صلاة التسبيح

- د : تطوّع 14

- ت : وتر 19

- جه : اقامة 190

Setelah ditelusuri, ternyata data yang diperoleh menunjukkan bahwa hadis-hadis tentang salat tasbih berada pada kitab dan bab yang berbeda dengan yang ditunjukkan di dalam al-Mu’jam al-Mufahras li al-Fa>z} al-Hadi>s\ al-Nabawi>. Adapun hadis-hadis tersebut berada pada:

1. Sunan Abi> Da>wud Kita>b al-S{ala>t Ba>b al-S{ala>t al-Tasbi>h, di dalamnya terdapat tiga riwayat.

2. Sunan al-Tirmiz\i> Kita>b al-S{ala>t Ba>b Ma> Ja’a fi> S{ala>t al-Tasbi>h, di dalamnya terdapat dua riwayat.

3. Sunan Ibnu Ma>jah Kita>b Iqa>mat al-S{ala>t wa al-Sunnat Fi>ha> Ba>b Ma> Ja>’a fi> S{ala>t al-Tasbi>h, di dalamnya terdapat dua riwayat.

Dengan demikian, hadis-hadis tentang s}alat tasbih yang berhasil dikumpulkan sesuai petunjuk kamus al-Mu’jam tersebut adalah berjumlah tujuh riwayat, yang termuat dalam tiga kitab hadis.

B. Klasifikasi Hadis-Hadis tentang S{alat Tasbih

Untuk memudahkan pembahasan hadis-hadis tentang s}alat tasbih lebih lanjut, maka susunan hadis yang dikutip tidak berdasarkan urutan-urutan kitab (bagian) sebagaimana telah dikutip di atas, tetapi disusun menurut pengelompokan atau klasifikasi masalah. Susunan sanad dan matan hadis tersebut sebagai berikut:

1. Hadis-hadis tentang s}alat tasbih

a. Riwayat Abu> Da>wud

-1حَدَّثَنَا مُحمَّد بن سُفْيَان الاُ ُبِليُّ، حَدَّثَنَا حَبَّانُ بنُ هِلالِ اَبُو حَبِيْبٍ، حَدَّثَنَا مَهْدِيُّ بن مَيْمُوْنٍ، حَدَّثَنَا عَمْرُو بنُ مَا ِلكٍ عن ابي اْلجَوْزَاءِ، حَدَّثَني رَجُلٌ كَاَنتْ لَهُ صُحْبَةٌ يَرَوْنَ اَنَّهُ عَبْدُالله بنُ عَمْرٍو قال قال لِيَ النَّبِيُّ (رسولُ اللهِ) صهم: "ائْتِنِيْ غَدًا اَحْبُوْكَ وَاُثِِيْبَكَ واُعْطِيْكَ حَتَّي َظَنْنتُ اَنَّهُ يُعْطِيْنِيْ عَطِيَّةً. قال: اذا زَالَ النَّهَارُ فَقُمْ فَصَلِّ اَرْبَعَ رَكَعَاتٍ فَذَكَرَ نَحْوَهُ. قال ثَمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ يَعْنِيْ مِنَ السَّجَدَةِ الثَّاِنَيِة فَاْستَوِ جَاِلسًا وَلا تَقُمْ حتي تُسَبِّحَ عَشْرًا، وَتَحْمَدَ عَشْرًا، وَتُكَبِّرَ عَشْرًا، وَتُهَلِّلَ عَشْرًا، ثُمَّ تَصْنَعُ ذَلِكَ فِي اْلارْبَعِ رَكَعَاتٍ. قال: فَأِنَّكَ لَوْكُنْتَ أَعْظَمَ أَهْلَ الارْضِ ذَنْبًا غُفِرَ لَكَ بِذَلِكَ. قال: قُلْتُ فَأِنْ لَمْ أَسْتَطِعْ أَنْ أَصَلِّيْهَا تِلْكَ الَّساعَةِ قال: صَلِّهَا مِنَ اَّلليْلِ وَالنَّهَارِ".[11]

Muh}ammad bin Sufya>n al-Ubulli> menceritakan kepada kami, H{abba>n bin Hila>l Abu> Habi>bi menceritakan kepada kami, Mahdi> bin Maymu>n menceritakan kepada kami, ‘Amr bin Ma>lik menceritakan kepada kami, dari Abi> al-Jawza>i, rajulun lahu> S{uh}bah menceritakan kepadaku, dia meriwayatkan bahwasanya ‘Abdulla>h bin ‘Amr berkata: Rasulullah saw. berkata: “Kembalilah besok, aku akan memberi suatu hadiah kepadamu. Apabila siang telah hilang, maka berdirilah untuk mengerjakan s}alat empat rakaat berzikirlah dan sebagainya, kemudian angkat kepalamu yakni dari sujud kedua dilanjutkan dengan duduk, dan jangan berdiri sebelum bertasbih sepuluh kali, bertahmid sepuluh kali, bertakbir sepuluh kali, dan bertahlil sepuluh kali, kemudian lakukan yang demikian sebanyak empat rakaat. Kemudian beliau bersabda meskipun dosamu sebanyak penduduk bumi niscaya akan diampuni. Apabila engkau tidak dapat mengerjakannya setiap saat, maka s}alatlah malam atau siang.”

-2حَدَّثَنَا أَبُو تَوْبَة الرَّبِيْعُ بنُ نَاِفع، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بنُ مُهَاجِرٍ عَن عُرْوَةَ ابنِ رُوَيْمٍ، حَدَّثَنِي الانْصَارِيُّ أنّ رَسُولَ الله صهم قالَ لِجَعْفَرِ بِهَذَا الحدِيث. فَذَكَرَ نَحْوَهُمْ قالَ فِي السَّجَدَةِ الَّثانِيَةِ مِنَ الرَُّْكَعةِ الاولي كَمَا قالَ فِي حدِيثِ مَهْدِيُّ بنِ مَيْمُونٍ.[12]

“Abu> Tawbah al-Rabi’ bin Na>fi’ menceritakan kepada kami, Muh}ammad bin Muha>jir menceritakan kepada kami, dari ‘Urwah bin Ruwaym, al-Ans}a>ri> menceritakan kepadaku bahwa Rasulullah saw. berkata kepada Jafar dengan hadis ini, maka ia menyebut hadis seperti ini. Dia berkata pada sujud kedua dari rukuk pertama, sebagaimana pada hadis Mahdi> bin Maymu>n”.

-3حَدَّثَنَا عَبْدالرَّحْمن بْن بِشْرِ بْنِ الحَكَمِ النَّيْسَابُوْرْي.حدثَنَا مُوْسَي بْن عَبْد العَزِيْزِ.حدثَنَا الحَكَمُ بن اَبَانَ، عَنْ عِكْرِمَة، عَنْ ابْنِ عبَّاس؛ قَال: قالَ رَسُوْل الله صهم لِلعَبَّاس بْن عَبْدالمُطَّلِبِ " ياعباس يَاعَمَّاهُ، اَلا اُعْطِيْكَ، اَلا اَمْنَحُكَ، اَلا اَحْبُوْكَ، اَلا اَفْعَلُ بكَ عََْشْرَ خِصَالٍ. اِذَا اَنْتَ فَعَلْتَ ذَلِكَ غَفَرَ اللهُ لَكَ ذَنْبَكَ َاوَّلَهُ وَاَخِرَهُ، وَقَدِيْمَهُ وَحَدِيْثَهُ، َوخَطَاَهُ وَعَمْدَهُ، صَغِيْرَهُ وَكَبِيْرَهُ، َِسِرَّهُ وَعَلا نِيَتَهُ. عَشْرَ خِصَالٍ: اَنْ تُصَلِّي اَرْبَعَ َرَكعَاتٍ. تقرأُ في كلِّ رَكْعةٍ ِفاتحةَ الكتابِ وسُوْرَةً. فاذا فَرَغْتَ من القراءة في اَوََّلِ رَكْعةٍ وانتَ قائمٌ ُُقلْتَ: سبحان الله والحمد لله ولااله الاالله والله اكبر. خمْْسَ عشْرَةَ مَرَّةً. ثم تركعُ قتقولهاُ، وانتَ َراكِعٌ عشْرًا. ثم ترفع راسك من الركوع فتقولها عشرا. ثم تهوي ساجدا فتقولها وانت ساجدا عشرا. ثم ترفع رأسك من السجود فتقولهاعشرا. ثم تسجد فتقولها عشرا. ثم ترفع رأسك فتقولهاعشرا. فذلك خمس وسبعون في كل ركعة. تفعل ذلك في اربع ركعات. ان استطعت ان تصليها في كل يوم فافعل. فان لم تفعل ففي كل جمعة مرة. فان لم تفعل ففي كل شهر مرة. فان لم تفعل ففي كل سنة مرة، فان لم تفعل ففي عمرك مرة".[13]

‘Abd al-Rah}ma>n bin Bisyri bin al-H{akam al-Naysabu>ri> menceritakan kepada kami, Mu>sa> bin ‘Abd al-‘Azi>z menceritakan kepada kami, al-Hakam bin Aba>n menceritakan kepada kami, dariIkrimah dari Ibnu ‘Abba>s, dia berkata: Rasulullah saw berkata kepada ‘Abba>s bin ‘Abd Mut}t}alib: “Wahai pamanku Abba>s, maukah menerima sekiranya aku memberi suatu hadiah kepadamu? Aku telah mengerjakan sepuluh perkara yang apabila engkau mengerjakannya pula, maka Allah akan mengampuni dosa-dosamu, baik yang terdahulu maupun yang akan datang, yang lama maupun yang baru, yang tidak disengaja maupun yang disengaja, yang kecil maupun yang besar, dan yang rahasia maupun yang terang-terangan. Sepuluh perkara itu adalah: Hendaklah engkau mengerjakan s}alat empat rakaat, yang setiap rakaatnya membaca Surah al-Fatihah dan disertai surah yang lain. Ketika selesai membaca surah pada rakaat pertama, sedangkan engkau masih dalam keadaan berdiri, bacalah tasbih: Subh>a>nalla>hi walh}amdu lilla>hi wa la> ila>ha illalla>hu walla>hu akbar sebanyak lima belas kali. Ketika rukuk, bacalah tasbih sepuluh kali. Kemudian bangkit dari rukuk (iktidal), lantas bacalah tasbih sepuluh kali, lalu sujud. Ketika dalam keadaan sujud, bacalah tasbih sepuluh kali. Lalu duduk, dan ketika duduk di antara dua sujud, bacalah tasbih sepuluh kali. (Ketika sujud yang kedua, bacalah tasbih sepuluh kali). Dan ketika bangkit dari sujud (ketika berdiri pada rakaat berikutnya sebelum membaca surah al-Fatihah), bacalah tasbih sepuluh kali. Demikianlah engkau lakukan, hingga setiap rakaatnya membaca tujuh puluh lima kali bacaan tasbih, dan engkau lakukan dalam empat rakaat. Apabila engkau mampu mengerjakannya setiap hari, maka lakukanlah. Tetapi bila tidak mampu, maka kerjakanlah satu kali dalam seminggu, pada setiap hari jum’at. Apabila tidak mampu, maka setiap bulan sekali. Bila tidak mampu, maka setiap tahun sekali. Dan apabila masih belum mampu melaksanakan setahun sekali, maka lakukanlah satu kali selama hidupmu.”

b. Riwayat Tirmiz\i>

حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبِ حدثنا زيد بن حُبَابٍ العُكْلِيُّ حدثنا موسي بنُ عُبَيْدَةَ حدثني سعيدُ بن ابي سعيدٍ مولي أَبي بكر بن محمد بن عمرو بن حزمٍ، عن ابي رافع ؛ قال: قال رسول الله صهم للعباِس " ياعَمَّ !ألا أَصْلُكَ أَلا أَحْبُـْوكَ، ألا أَنْفَعُكَ، قال: بلَي. يارسولَ الله، قال "ياعمَّ، َصلِّ اربعَ ركعات، تقرأُ في ُكلِّ رَكْعَةٍ بِفَاتِحَة الكِتَابِ وَسُوْرَةٍ ، فَأِذَا اْنَقَضَتِ القِرِاءَةُ فقل: الله اكبر، والحمد لله، وسبحان الله، خَمْسَ عَشْرَةَ مَرَّةً قبل ان تركعَ، ثُمَّ اركعْ فقلها عَشْرًا. ثُمَّ ارفَع رَأسَكَ فقلها عَشْرًا. ثم اسجد فقلها عشرا. ثم ارفع رأسك فقلها عشرا. ثم اسجد فقلها عشرا. ثم ارفع رأسك فقلها عشرا قَبْلَ انْ تَقُوْمَ. فتلك خمسٌ و سبعونَ في كلِّ ركعةٍ. وهي ثلاثمائة في أربع ركعاتٍ. فلو كانت ذنوبك مِثْلَ رَمْلٍ عَاِلجٍ، لَغَفَرَهَا اللهُ لك" قال: يارسولَ الله! ومن يستطعُ يقولها في يوم؟ قال "فأن لم تََسْتَطِعْ أَنْ تقولها في جمعةٍ.فقلها في شهرٍ"فَلَمْ يَزَلْ يَقُول له حَتَّي قال " فقلها في سَنَةٍ".[14]

“Abu> Kurayb menceritakan kepada kami, Zayd bin H{uba>b al-Ukli> menceritakan kepada kami, Mu>sa> bin ‘Ubaydah menceritakan kepada kami, Sa’i>d bin Abi> Sa’i>b mawla> Abi> Bakr bin Muh}ammad bin ‘Amr bin H{azm menceritakan kepadaku, dari Abi> Ra>fi’, dia berkata: Rasulullah saw berkata kepada ‘Abba>s: Wahai paman, maukah sekiranya aku memberi hadiah kepadamu? Dia berkata: tentu Ya Rasulullah, Rasulullah berkata: Wahai pamanku, s}alatlah empat rakaat, bacalah pada tiap rakaat fa>tihat al-kita>b dan surah yang lain. Maka setelah selesai membaca, maka ucapkan alla>hu akbar, al-h}amdulilla>h, dan subh}a>nalla>h lima belas kali sebelum rukuk, kemudian rukuk bacalah sepuluh kali, kemudian bangkit dari rukuk bacalah sepuluh kali, kemudian sujud bacalah sepuluh kali, kemudian bangkit dari sujud bacalah sepuluh kali, kemudian sujud bacalah sepuluh kali, kemudian bangkit bacalah sepuluh kali sebelum berdiri, demikian berjumlah tujuh puluh lima kali tiap rakaat, dan tiga ratus kali dalam empat rakaat. Seandainya dosamu bagaikan gunung pasir, niscaya akan diampuninya. Kemudian dia (Abba>s) berkata: “Ya Rasulullah, jika tidak dapat dikerjakan setiap hari”, Rasulullah berkata: “Jika tidak dapat dikerjakan, maka lakukan pada waktu jum’at, jika tidak dapat lakukan sebulan sekali, hingga dikatakan kepadanya: lakukan sekali setahun.”

c. Riwayat Ibnu Ma>jah

-1حَدَّثَنَا مُوسَي بْنِ عَبْدالرَّحْمن،أَبُومُوسَي المَسْرُوقِي، ثَنَا زَيْد بنُ الحَبَابِ، ثنا مُوسَي بنُ عُبَيْدَةَ، حَدَّثَني سَعِيْدُ بنُ أَبِي سَعِيْدٍ، مَولَي أَبِي بَكْرٍ بنِ عَمْرٍو بنِ حَزْمٍ، عَنْ أَبِي رَافِعٍ ؛ قَال: قالَ رَسُولُ اللهِ صهم لِلعبَّاسِ " يَاعَمِّ ألا أَحْبُـوكَ، ألاأنْفعُكَ، ألا أصِلُكَ" قالَ: بَلَي. يَارَسُولَ اللهِ! قال " فَصَلِّ أَرْبَعَ رَكعَاتٍ ، تَقْرَأُ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ بِفَاتحةِ الكِتَابِ وَسُوْرَةٍ ، فَاِ ذَا انْقَضَتِ القِرَاءَةُ فَقُلْ: سُبْحَانَ اللهِ والحَمْدُ للهِ ولاالهَ الاالله واللهُ اكْبَر، خَمْسَ عَشْرَةَ مَرَّةً قَبْلَ اَنْ تَرْكَعَ، ثُمَّ ارْكَعْ فَقُلْهَا عَشْرًا. ثُمَّ ارْفَعْ رَأسَكَ َفُقلْهَا عَشْرًا. ثُمَّ اسْجُدْ فَقُلْهَا عَشْرًا. ثُمَّ ارْفَعْ رَأْسَكَ فَقُلْهَا عَشْرًا. ثُمَّ اسْجُدْ فَقُلْهَا عَشْرًا. ثُمَّ ارْفَعْ َرْأسَكَ فَقُلْهَا عَشْرًا قَبْلَ أَنْ تَقُوْمَ. فَتِلْكَ خَمْسٌ وَ سَبْعُوْنَ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ. وَهِيَ ثَلاثُمِائَةٍ فِي أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ. فَلَوْ كَانَتْ ذُنُوْبُكَ مِثْلَ رَمْلٍ عَالِجٍ، غَفَرَهَا اللهُ لَكَ" قالَ: يَارَسُولَ اللهِ! وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ يَقُولُهَا فِي يَوْمٍ؟ قَالَ " قُلْهَا فِي جُمُعَةٍ. فَاِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقُلهَا فِي شَهْرٍ" حَتَّي قَاَل " فَقُلْهَا فِي سَنَةٍ".[15]

Mu>sa> bin ‘Abd al-Rah}ma>n menceritakan kepada kami, Zayd bin al-H{ubba>b menceritakan kepada kami, Mu>sa> bin ‘Ubaydah menceritakan kepada kami, Sa’i>d bin Abi> Sa’i>d menceritakan kepadaku, dari Abi> Ra>fi, dia berkata: Rasulullah saw berkata kepada ‘Abba>s: Wahai paman, maukah sekiranya aku memberi hadiah kepadamu? Dia berkata: tentu Ya Rasulullah, Rasulullah berkata: Wahai pamanku, s}alatlah empat rakaat, bacalah pada tiap rakaat fa>tih}at al-kita>b dan surah yang lain. Apabila telah selesai membaca, maka ucapkanlah subh}a>nalla>h, al-h}amdulilla>h, la> ila>ha illalla>h, dan alla>hu akbar sebanyak lima belas kali sebelum rukuk, kemudian rukuk bacalah sepuluh kali, kemudian bangkit dari rukuk, lantas bacalah sepuluh kali, lalu sujud bacalah sepuluh kali, bangkit dari sujud bacalah sepuluh kali sebelum berdiri, demikian berjumlah tujuh puluh lima kali pada tiap rakaat dan tiga ratus tasbih dalam empat rakaat. Meskipun dosamu bagaikan gunung pasir, niscaya akan diampuninya. Kemudian dia (‘Abba>s) berkata: “Ya Rasulullah, jika tidak dapat dikerjakan setiap hari”, Rasulullah berkata: “Jika tidak dapat dikerjakan, maka lakukan pada waktu jum’at, jika tidak dapat lakukan sebulan sekali, hingga dikatakan kepadanya: lakukan sekali setahun.”

-2حَدَّثَنَا عَبْدالرَّحْمن بْن بِشْرِ بْنِ الحَكَمِ النَّيْسَابُوْرْي، حدثَنَا مُوْسَي بْن عَبْد العَزِيْزِ، حدثَنَا الحَكَمُ بن اَبَانَ، عَنْ عِكْرِمَة، عَنْ ابْنِ عبَّاس؛ قَال: قالَ رَسُوْل الله صهم لِلعَبَّاس بْن عَبْدالمُطَّلِبِ " ياعباس يَاعَمَّاهُ، اَلا اُعْطِيْكَ، اَلا اَمْنَحُكَ، اَلا اَحْبُوْكَ، اَلا اَفْعَلُ بكَ عََْشْرَ خِصَالٍ. اِذَا اَنْتَ فَعَلْتَ ذَلِكَ غَفَرَ اللهُ لَكَ ذَنْبَكَ َاوَّلَهُ وَاَخِرَهُ، وَقَدِيْمَهُ وَحَدِيْثَهُ، َوخَطَاَهُ وَعَمْدَهُ، صَغِيْرَهُ وَكَبِيْرَهُ، َِسِرَّهُ وَعَلا نِيَتَهُ. عَشْرَ خِصَالٍ: اَنْ تُصَلِّي اَرْبَعَ َرَكعَاتٍ. تقرأُ في كلِّ رَكْعةٍ ِفاتحةَ الكتابِ وسُوْرَةً. فاذا فَرَغْتَ من القراءة في اَوََّلِ رَكْعةٍ وانتَ قائمٌ ُُقلْتَ: سبحان الله والحمد لله ولااله الاالله والله اكبر. خمْْسَ عشْرَةَ مَرَّةً. ثم تركعُ قتقولهاُ، وانتَ َراكِعٌ عشْرًا. ثم ترفع راسك من الركوع فتقولها عشرا. ثم تهوي ساجدا فتقولها وانت ساجدا عشرا. ثم ترفع رأسك من السجود فتقولهاعشرا. ثم تسجد فتقولها عشرا. ثم ترفع رأسك فتقولهاعشرا. فذلك خمس وسبعون في كل ركعة. تفعل ذلك في اربع ركعات. ان استطعت ان تصليها في كل يوم فافعل. فان لم تفعل ففي كل جمعة مرة. فان لم تفعل ففي كل شهر مرة. فان لم تفعل ففي كل سنة مرة، فان لم تفعل ففي عمرك مرة".[16]

‘Abd al-Rah}ma>n bin Bisyr bin al-H{akam al-Naysabu>ri> menceritakan kepada kami, Mu>sa> bin ‘Abd al-‘Azi>z menceritakan kepada kami, al-Hakam bin Aba>n menceritakan kepada kami, dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, dia berkata: Rasulullah saw berkata kepada Abbas bin ‘Abd al-Mut}t}alib: “Wahai pamanku Abba>s, maukah menerima sekiranya aku memberi suatu hadiah kepadamu? Aku telah mengerjakan sepuluh perkara yang apabila engkau mengerjakannya pula, maka Allah akan mengampuni dosa-dosamu, baik yang terdahulu maupun yang akan datang, yang lama maupun yang baru, yang tidak disengaja maupun yang disengaja, yang kecil maupun yang besar, dan yang rahasia maupun yang terang-terangan. Sepuluh perkara itu adalah: Hendaklah engkau mengerjakan s}alat empat rakaat, yang setiap rakaatnya membaca Surah al-Fatihah dan disertai surah yang lain. Ketika selesai membaca surah pada rakaat pertama, sedangkan engkau masih dalam keadaan berdiri, bacalah tasbih: Subh}a>nalla>hi walh}amdu lilla>hi wa la> ila>ha illala>hu walla>hu akbar sebanyak lima belas kali. Ketika rukuk, bacalah tasbih sepuluh kali. Kemudian bangkit dari rukuk (iktidal), lantas bacalah tasbih sepuluh kali, lalu sujud. Ketika dalam keadaan sujud, bacalah tasbih sepuluh kali. Lalu duduk, dan ketika duduk di antara dua sujud, bacalah tasbih sepuluh kali. (Ketika sujud yang kedua, bacalah tasbih sepuluh kali). Dan ketika bangkit dari sujud (ketika berdiri pada rakaat berikutnya sebelum membaca surah al-Fatihah), bacalah tasbih sepuluh kali. Demikianlah engkau lakukan, hingga setiap rakaatnya membaca tujuh puluh lima kali bacaan tasbih, dan engkau lakukan dalam empat rakaat. Apabila engkau mampu mengerjakannya setiap hari, maka lakukanlah. Tetapi bila tidak mampu, maka kerjakanlah satu kali dalam seminggu, pada setiap hari jum’at. Apabila tidak mampu, maka setiap bulan sekali. Bila tidak mampu, maka setiap tahun sekali. Dan apabila masih belum mampu melaksanakan setahun sekali, maka lakukanlah satu kali selama hidupmu.”

2. Hadis tentang tasbih

حدثنا احمد بن محمد بن موسي اخبرنا عبد الله بن المبارك اخبرنا عِكْرِمَة بن عَمَّارٍ حدثني اسحقُ بن عبدالله بن أبي طلحةَ عن انس بن مالك: "اَنَّ اُمَّ سُلَيْمٍ غَدَتْ علَي النبي صهم فَقَالَتْ: عَلِّمْنِي كَلِماتٍ اُقوُلهُنَّ في صَلاتٍي، فقال: كَبِّرِي اللهَ عَشْرا، وَسَبِّحِي اللهَ عَشْرا، وَحْمَدِيْه عشْرا، ثُمَّ سَلِي ما شِئْتِ، يَقُولُ: نَعَمْ، نَعَمْ".[17]

Ah}mad bin Muh}ammad bin Mu>sa> menceritakan kepada kami, Abdulla>h bin al-Muba>rak memberiakan kepada kami, ‘Ikrimah bin ‘Amma>r memberitakan kepada kami, Ish}a>q bin ‘Abdulla>h bin Abi<>lik: “Pada suatu pagi Ummu Sulaym berangkat menghadap Nabi saw, lantas berkata: Ya Rasulullah, ajarilah aku beberapa kalimat yang dapat aku baca dalam s}alatku.” Lalu Rasulullah bersabda: “Bertakbirlah sepuluh kali, bertasbihlah sepuluh kali, dan bertahmidlah sepuluh kemudian bermohonlah kepada Allah apa saja yang engkau kehendaki.” Lantas Rasulullah melanjutkan nasehatnya dengan bersabda: “Ya, tentu engkau meraih kebahagiaan di dunia dan di akhirat.”

Demikian hadis-hadis yang dijadikan pedoman untuk melakukan s}alat tasbih.

C. Al-i’tiba>r Sanad Hadis

Kata al-i’tiba>r (الاعْتِبَار) merupakan masdar dari kata اِعْتَبَرَ. Menurut bahasa, arti al-i’tiba>r adalah “peninjauan terhadap berbagai hal dengan maksud untuk dapat diketahui sesuatunya yang sejenis.”[18]

Menurut istilah ilmu hadis, al-i’tiba>r berarti menyertakan sanad-sanad yang lain untuk sesuatu hadis tertentu, yang hadis itu pada bagian sanadnya tampak hanya terdapat seorang periwayat saja, dan dengan menyertakan sanad-sanad yang lain tersebut akan dapat diketahui apakah ada periwayat yang lain ataukah tidak ada untuk bagian sanad dari sanad hadis dimaksud.[19]

Dengan dilakukannya al-i’tiba>r, maka akan terlihat dengan jelas seluruh jalur sanad hadis-hadis tentang s}alat tasbih, demikian pula dengan nama-nama periwayatnya, dan metode periwayatan yang digunakan oleh masing-masing periwayat yang bersangkutan. Jadi kegunaan al-i’tiba>r adalah untuk mengetahui keadaan sanad hadis seluruhnya dilihat dari ada atau tidak adanya pendukung berupa periwayat yang berstatus sya>hid dan mutabi’.

Untuk memperjelas dan mempermudah proses kegiatan al-i’tiba>r, maka dibuatkan skema sebagai berikut:

1. Skema sanad hadis tentang s}alat tasbih

2. Skema sanad hadis tentang tasbih

اسحق بن عبدالله


عكرمة بن عمار


احمد بن محمد

الترمذي



[1]Kata takhri>j adalah bentuk isim masdar dari kataخرج-يخرج , sedang kata خرج .adalah bentuk fi’il mad}I s\ulass\i mazi>d dari kata خرج terdiri atas huruf-huruf kha ( خ ) ra (ر ) jim ( ج ), maka asalnya ada dua yakni penembusan sesuatu atau menghabiskan sesuatu dan perbedaan dua warna. Lihat Abi> Husayn Ah}mad bin Faris bin Zakariyyah, Maqa>yis al-Lugah, juz II (Mesir: Maktabah Matbaah Mus}t}afa al-Ba>bi al-Halabi wa Awla>duh, 1972), h. 175, juga berarti mengeluarkan, tampak atau jelas. Lihat Ahmad Warson al-Munawwir, Al-Munawwir: Kamus Arab Indonesia (Cet. XIV; Surabaya: Pustaka Progresif, 1997), h. 209, lihat pula Louis Ma’luf, Al-Munjid al-Lugah wa A’lam (Bayru>t: Dar al-Fikr, 1986), h. 172-173.

[2]Mah}mu>d al-T{ah}h}a>n, Us}u>l al-Takhri>j wa Dira>sat al-Asa>nid (Halb: Matba’ah al-Arabiyah, 1398 H/1978 M.), h. 9.

[3]Abu> al-Fad}l Jamal al-Di>n Muh}ammad bin Mukram Ibn Manzu>r, Lisa>n al-‘Arab, juz II (Bayru>t: Da>r al-S{adr, 1396 H./1968 M.), h. 249.

[4]Abu> Muh}ammad Mahdi bin ‘Abd al-Qadi>r bin ‘Abd al-Hadi>, Turu>q Takhrij al-H{adi>s\ Rasu>lullah saw, diterjemahkan oleh H.S. Aqil Husain al-Munawwar dan H. Ahmad Rifqi Mukhtar dengan judul Metode Takhrij Hadis (Cet. I; Semarang: Dina Utama, 1994), h. 2.

[5]Ibid.

[6]Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadis Nabi (Cet.I; Jakarta: Bulan Bintang, 1992), h. 41-42.

[7]Ibid.

[8]Takhri>j al-hadi>s~\ bi al-lafz ialah penelusuran hadis melalui lafal, sedangkan takhri>j al-hadi>s~\ bi al-mawdu’i ialah penelusuran hadis melalui tema atau topik pembahasan. Ibid., h. 46-49.

[9]Abu Muhammad Mahdi bin Abd Qadir bin Abd Hadi, op.cit., h. 16-195.

[10]A. J. Wensinck, Mu’jam al-Mufahras li al-Fa>z} al-H{adi>s\ al-Nabawi>, juz II (Leiden: E. J. Brill, 1943), h. 392.

[11]Abi> Da>wud Sulayman bin al-Asy'as al-Sijistani>,. Sunan Abi> Da>wud, kitab al-S{ala>t bab S{ala>t at-Tasbi>h, juz I (Bayru>t: Da>r al-Fikr, 1994), .h. 484.

[12]Ibid. h. 485.

[13]Abi> Da>wud Sulayman bin al-Asy'as al-Sijistani>,. op. cit., h. 483-484.

[14]Abi> ‘I Muh}ammad bin ‘Isa>. bin Sawrah,. Sunan al-Tirmizi>, Kita>b al-S{ala>t Ba>b Ma> Ja’a fi> S{ala>t al-Tasbi>h, juz II (Bayru>t: Da>r al-Kutub al-Ilmiyyah, 1987), h. 347.

.

[15]Al-Hafiz} Abi> 'Abdulla>h Muh}ammad ibn Yazi>d al-Qaswini>. Sunan ibn Ma>jah, Kita>b Iqa>mat al-S{ala>t wa al-Sunnat Fi>ha> Ba>b Ma> Ja’a fi> S{ala>t al-Tasbi>h juz I. (Bayru>t: Da>r al-Fikr, 1995). h. 442.

[16]Ibid.

[17]Abi> ‘I Muhammad bin ‘Isa>. bin Sawrah,. Sunan al-Tirmizi>, loc.cit.

[18]M. Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadis Nabi (Cet. I; Jakarta: Bulan Bintang, 1992), h. 51.

[19] Ibid.

| edit post
Reaksi: 
0 Responses

Post a Comment