Transendent
Oleh : A.Jufri D,S.Ag.M.Ag.

A.SEJARAH HIDUPNYA.
Nama lengkap beliau adalah Muhammad Ibn Abu al-Fatah asy-Syafi’i. Beliau termasuk salah seorang pakar teologi dan penulis produktif di masanya. Beliau lahir,dibesarkan, di Syahrastan. Di sana pula beliau menuntut ilmu pada ulama- ulama terkemuka di masanya, seperti; Ahmad al-Khawafi, Abu al-Qasim al-Ansyari, Abu al-Hasan al-Madayini, Abu Nashir ibn Qasim al-Qusyairi.
Beliau memiliki karakter kuat yang gemar pada ilmu pengetahuan dan penelitian sejak kecil, yang akhirnya mengantar beliau berkembang menjadi seorang ilmuan yang cerdas dan bijak. Dalam menganalisa dan menyimpulkan suatu pendapat, beliau selalu bersikap moderat dan tidak emosional sebagai gambaran dari kedalaman ilmu dan pengetahuannya.
Ketika berusia 30 tahun, beliau berangkat ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji, tepatnya pada tahun 510 H. Seusai menunaikan ibadah haji, beliau berangkat ke Bagdad dan menetap di kota itu selama tiga tahun. Di sana beliau sempat memberikan kuliah di universitas Nizamiyah, dan banyak ulama yang belajar padanya.
Syahrastani memiliki beberapa karya tulis, diantaranya:
1. Al-Mushara’ah. Buku ini berisi tentang kritik terhadap argumentasi filosofis Ibnu Sina tentang kekekalan alam, dan penolakannya terhadap hari kebangkitan.
2. Nihayah al-Iqdam fi ilm al-kalam. Buku ini diterbitkan oleh seorang orientalis Inggris bernama Alfred Guillaume, pada tahun 1934 M.
3. Al-Irsyad ila aqaid al-Ibad. Kitab ini disebutkan Syahrastani dalam bukunya Nihayah al-Aqdam.
4. Al-Juz’u Allazi la yatajazzu.
5. Sybhah Aristatalis wa Ibn Sina wa naqdiha.
6. Nihayah al-Auham.
7. Al-Milal wa an-Nihal, dan beberapa karyanya yang lain yang disebutkan oleh sejarawan, namun kitabnya belum ditemukan.
Karya-karya Syahrastani, khususnya al-Milal wa an-Nihal mendapat apresiasi dan penghargaan yang besar di Timur maupun di Barat. Buku ini berbentuk ensiklopedi ringkas tentang agama, kepercayaan, sekte dan pandangan para filosof, yang erat kaitannya dengan metafisika yang dikenal pada zamannya.
B. POKOK-POKOK PEMIKIRAN ASY-SYAHRASTANI.
Asyahrastani dalam al-Milal wa an-Nihal, banyak merekam sejarah panjang pemikiran para filosof, teolog, dan ahli hikmah termasyhur dari berbagai penjuru dunia, yang membentang luas sejak ribuan tahun lalu; mulai dari pra Sokrates ( Thales dan Phitagoras ), Plato, Aristoteles,Porphyry,hingga Ibnu Sina dan al-Farabi, dan dari tradisi pemikiran kuno hingga ke aliran Reingkarnasi dan spiritualisme.
Kajian Syahrastani banyak diarahkan pada tema-tema besar kemanusiaan yang berhubungan dengan ruh, emosi, akal, libido, ego, malaikat, dan tuhan yang menjadi kajian teologi, filsafat, psikologi, dan spiritual. Hal ini tergambar dalam pokok-pokok bahasan beliau dalam kitab al-Milal wa an-Nihal, yakni;
1. Pluralitas agama dan kepercayaan ummat manusia.
2. Faktor pendorong lahirnya berbagai sekte di kalangan ummat Islam.
3. kesamaran pemikiran yang terjadi di kalangan ummat manusia, baik sumber maupun akibatnya.
4. perbedaan pendapat di kalangan ummat Islam latar belakang sebab dan akibatnya. Tema-tema tersebut diulas secara apik dengan argumentasi filosofis dan teologis dalam bahasa sederhana dan relatif mudah untuk dicerna.
Syahrastani dalam kajiannya, “menggarisbawahi” kecemerlangan ide- ide filosofis dan hikmah-hikmah kehidupan, serta mengkritisi argumentasi rasional yang dianggap menyimpang dari dari akidah Islam dengan mengutip dan mendasarkan diri pada ayat-ayat al-qur’an tentang tema-tema terkait.
1.Pluralitas agama dan kepercayaan ummat manusia.
Menurut Syahrastani, Ummat manusia terbagi menjadi pemeluk agama-agama dan penghayat berbagai kepercayaan. Pemeluk agama,diantaranya Pemeluk agama majusi, Nasrani, Yahudi dan Islam. Penghayat kepercayaan terbagi dalam sekian banyak aliran, seperti filosof, Dahriyah, Sabiyah, dan Brahmana.
Penganut agama majusi, Yahudi, Nasrani, masing-masing terpecah menjadi tujuh puluh sekte, dan penganut agama Islam terpecah menjadi tujuh puluh tiga sekte, dan yang selamat hanya satu karena kebenaran itu hanya satu. Dalam menyikapi pluralitas agama dan kepercayaan umat manusia, Syahrastani membangun argumen dasar bahwa;dua buah proposisi yang kontradiktif tidak mungkin benar keduanya. Demikian pula dalam ajaran agama; dua ajaran agama yang bertentangan tentu salah satunya ada yang benar dan yang lain pasti sesat.
2. Faktor pendorong lahirnya berbagai mazhab di kalangan ummat Islam.
Asy-syhrastani memandang bahwa faktor pendorong lahirnya berbagai sekte pemikiran dalam Islam, terdiri dari :
a. faktor politik, terkait dengan imamah ( Khalifah ) yang menggantikan posisi rasulullah sebagai pemimpin ummat dalam hal kenegaraan dan kemasyarakatan.
b. faktor teologi, terkait dengan empat masalah dasar yakni : pertama, masalah sifat dan keesaan Allah, kedua, Qadha, Qadar dan keadilan Allah, jabar dan kasab, keinginan berbuat baik dan jahat, masalah yang diluar kemampuan manusia dan masalah yang diketahui dengan jelas,ketiga, masalah wa’ad ( Janji), wa’id (ancaman), dan asma Allah, keempat, masalah wahyu, akal, kenabian, kebaikan dan keburukan kasih sayang Allah, kesucian para nabi, dan syarat-syarat imamah.


3. kesamaran pemikiran yang terjadi di kalangan ummat manusia, baik sumber maupun akibatnya.
Kekeliruan pertama yang terjadi di kalangan mahluk Allah adalah kekeliruan yang dilakukan oleh Iblis. Sumber kekeliruan ini adalah karena Iblis dikuasai oleh nafsu martabat asal kejadiannya. Dalam hal mengkritisi kemahakuasaan Allah, Iblis mengajukan tujuh pertanyaan.
1. Dia maha tahu segenap yang akan aku perbuat dan akibatnya sebelum dia menciptakan aku, tapi mengapa dia masih menciptakan aku?
2. Allah menciptakan diriku dengan kehendak dan kekuasaannya, mengapa aku masih diperintahkan untuk mengenal dan mentaatinya, padahal ketaatan itu sedikitpun tidak meringankan kemaksiatanku bagi Allah.
3. Karena Allah telah menciptakan diriku dan memerintahkan aku mentaatinya, maka aku telah memenuhi perintahnya. Tapi mengapa aku diperintahkan lagi bersujud pada adam? Maka apa hikmahnya perintah khusus ini dia tahu tidak ada gunanya pengenalanku dan ketaatanku kepadanya.
4. Allah menciptakan dan memerintahkanku secara umum, kenapa aku dibebani perintah husus dan kalau aku tidak bersujud kepada adam kenapa aku dikutuk dan dikeluarkan dari surga, apa hikmahnya sedang aku tak pernah berbuat jahat kecuali aku hanya mengatakan tidaka akan sujud melainkan kepada Allah semata.
5. Allah telah menciptakan diriku, kenapa aku dikutuk dan tidak diberi kesempatan seperti yang diberikan kepada adam masuk ke dalam surga untuk kedua kali, aku akan memperdayanya seperti aku telah berhasil mempedayanya dengan memakan buah kayu yang terlarang dan dikeluarkan dari surga bersama dengan aku. Apa hikmahnya aku dilarang masuk surga sehingga Adam terhindar dari gangguanku dan kekal di dalam surga.
6. Allah telah menciptakan diriku, mengutuk dan mengeluarkan aku dari surga karenanya terjadi permusuhan antara aku dan adam, kenapa kepadaku diberi kekuasaan, untuk mengganggunya, sehingga aku melihatnya dan dia tidak dapat melihatku, aku dapat memperdayinya dan dia tak dapat memperdayai aku. Apa hikmahnya mereka diciptakan dalam keadaan suci dan mereka hidup suci, menaati Allah dan sangat berhati-hati padahal aku lebih layak menerima semua itu.
7. Aku menerima semua itu, Allah menciptakan diriku dan kalau aku tidak menaatinya aku dikutuk dan diusir, karena itu berikan kesempatan kepadaku untuk masuk surga, tetapi kalau aku mengerjakan sesuatu kesalahan maka aku dikeluarkan dari surga dan dibangkitkan permusuhan abadi dengan manusia. Apa hikmahnya aku dikutuk dan adam hidup tenang, apakah keberadaanku menjadi bencana bagi alam semesta? Apakah hukum alam berlaku atas kebaikan dan kejahatan.
Kekeliruan Iblis tersebut dalam pandangan Syahrastani, kemudian menjadi pangkal dari segenap kerancuan pemikiran manusia yang mengadopsi cara Iblis mengkritisi eksistensi tuhan.
Dengan argumen ini Syahrastani mengkritisi pandangan mazhab teologi seperti Qadariyah,dan Jabariyah, sebagai mazhab teologi yang bermanhaj Iblis. Mu’tazilah dalam pandangannya menyamakan Allah dengan manusia dari aspek perbuatan, sementara golongan musyabahah menyamakan Allah dengan manusia dari aspek sifat. Kedua mazhab tersebut menurutnya tercela. Mazhab Mu’tazilah berlebihan di dalam bidang tauhid, sehingga meniadakan sifat Allah. Mazhab Masyabahah terlalu picik sehingga memberikan sifat yang ada pada khalik sama dengan sifat yang ada pada semua benda. Sedang Rafidhah terlalu berlebihan dalam teori nubuwah dan imamah yang sampai pada Hulul dan mazhab Khawarij lebih sempit lagi sampai menolak kepemimpinan manusia.
| edit post
Reaksi: 
0 Responses

Post a Comment