Transendent
Malam, 24 Desember 2008.
Sempat kubaca biografi Karen Armstrong “Menerobos Kegelapan”. Sebuah kisah diri yang sedang bergelut , mencari identitas manusia sejati. Terjadi petualangan rohani di dalamnya. Dan Karen Armstrong, berhasil menyadari kehadiran itu. Sebuah keniscyaan bagi setiap manusia; bahwa kejadian rohani itu, inheren pada tiap diri kita masing-masing. Sekalipun sedikit manusia yang terbiasa menyadari kejadian itu. Petualangan rohani, bergerak seperti sejarah hidup yang lain. Mengalir tiap saat. Menimbulkan sensasi, menggetakan jiwa. Membuat akal budi bergolak; melahirkan banyak imajinasi liar pada keadaan yang tak Nampak tapi sekaligus mampu dirasakan.
MANUSIA, SEMESTA DAN TUHAN
Adakah nelangsa spiritual Karen Armstrong yang hampir saja ‘percaya’ ketika ia sampai pada ingatan terhadap Paulus, hadir menyeruak dalam relung-relung ingatannya yang diakuinya penuh dedikasi manusia suci, pernah menjadi kisah anonim kita? Ataukah ketika ia harus terbangun di waktu subuh bagian Yerussalem, kala syahdu azan menyeruak masuk, menggetarkan jiwanya, dan sesuatau yang asing menghentaknya? Sesuatu yang tak pernah disadari sebelumnya dalam peristiwa yang terlalu sering dilalui dalam keadaan tak sadar. Dimanakah kita di antara universalisme tersebut?
Malam, menjelang 25 Desember 2008.
Tak kupikir mesti ke Yerussalem, seperti Karen Amstrong megisahkan kesannya terhadap tempat itu. Cukup kita merenung disini saja. Sejauh mana kita mengevaluasi kondisi spiritual masing-masing. Disini saja………………………………………………………………….
Untuk yang besok natalan, Slamat natal aja dan jadilah lebih bijak dari hari kemarin dan hari ini .
malam dua puluh lima desember 2008
jesus terlalu lama pulas
kapankah dia dibangkitkan?
sang mesias ditunggu banyak orang
pada banyak negeri
oleh semua bangsa?
Indonesia , mungkin yang terlalu merindukanmu
sebab di sini, negeri ini hampir tak lagi mengenal “kasih”
tidakkah kasih telah diamanahkan padamu
untuk bani israil
untuk semua
ajarkanlah…jangan menunggu lama, bangkitlah ‘besok 25-12-2008”
| edit post
Reaksi: 
0 Responses

Post a Comment